Sabtu, Juni 19, 2010

Sebuah catatan akhir tahun


Hari ini semua siswa spenzaga dan smansaku menerima rapot hasil belajar mereka selama satu tahun. Ada yang tersenyum lebar karena mereka naik kelas dengan hasil yang bagus, ada pula yang tersenyum kecut melihat nilai rapor yang tidak sesuai dengan harapan bahkan ada pula yang menangis karena harus tinggal kelas. Apa pun hasilnya itu semua merupakan hasil belajar kalian selama satu tahun kemarin. Buat yang naik kelas dengan nilai yang memuaskan jangan cepat berpuas diri karena ke depan tantangan akan lebih berat lagi. Bagi yang naik kelas dengan nilai yang kurang bagus jangan patah arang dan buktikan di tahun depan bahwa kalian bisa lebih baik dari ini. Dan  buat yang tinggal kelas jangan bersedih, dunia belum berakhir nak. Okeh

Tak terasa sudah satu tahun pelajaran telah terlewati. Banyak kisah dan kenangan yang sulit untuk dilupakan. Tahun ini merupakan tahun pertama aku menjadi seorang guru. Sebuah profesi yang menuntut sebuah pengabdian, kerja keras, disiplin dan pengorbanan. Dan beruntung aku bisa belajar di dua sekolah sekaligus. Yah, di SMA Negeri 1 Kutasari dan SMP Negeri 1 Purbalingga.


Di spenzaga aku mengajar kelas 7F dan 7G dan mereka biasa menyebut kelas mereka dengan Jufenzip dan D’zenji. Kedua kelas ini mempunyai dua ciri khas yang berbeda. Jufenzip cenderung menjadi kelas yang super rame kalo pelajaran matematika. Ada yang suka teriak-teriak kalo tanya, ada suka yang nyanyi-nyanyi sendiri, ada yang lari-lari bahkan ada pula yang curhat. Biasanya curhat tentang pacar. Hmmm pancen....Tak tahu apakah itu terjadi hanya pada pelajaranku saja atau di semua pelajaran juga begitu. Sedangkan for the student next door, anak-anak d’zenji cenderung lebih tenang kalo diajar tapi kadang juga rewel banget nek lagi ulangan. But over all, aku suka mereka semua.

Pernah pada beberapa anak aku bertanya apa kesan pertama saat tahu bahwa aku yang jadi guru matematika mereka. Ada yang comment aku seperti amrozi tapi lebih item dikit, ada yang nyletuk aku mirip pak liknya, ada yang membatin aku akan menjadi guru matematika tergalak yang pernah mereka temui karena menyeramkan. Hahahaha.....itu lah pengakuan jujur dari anak-anak yang kadang membuat aku tersenyum-senyum sendirian. Tapi aku sedih itu semua tak akan aku temui lagi. Duh jen, ni malah back soundnya “kenangan terindah” by Samsons....T.T

Smansaku......hmm....di sini juga tak kalah seru kalau berbicara tentang kenangan. Satu yang tak akan pernah terlupa adalah tentang penjumlahan pecahan. Di awal pertemuan pada suatu kelas secara iseng aku bertanya pada beberapa orang. “coba aku mau tanya berapa setengah ditambah sepertiga?”. Secara acak aku bertanya kepada mereka dan mereka pun menjawab “seperlima!!!!”. “Bagus” kataku dengan takjubnya. Itu kesan pertama dan mendalam yang pernah aku alami. Belum lagi tentang anak yang tidak bisa perkalian biasa dan bertingkat serta tak bisa porogapet pula. Hmm.......

Selanjutnya kisah di smansaku lebih banyak menuntut kesabaranku. Tiada hari tanpa mengelus dada. Tidak ada kelas yang tidak bermasalah denganku. Mulai dari rame sendiri, ada anak yang nginjek-nginjek kursi guru, bawa HP di kelas sampai mencoret-coret buku paket. Hmm...tapi ada juga yang buat aku berkesan. Saat ultahku ada sebuah kelas yang membuat surpraise dengan membuat aku jengkel dulu sampai pada akhirnya memberikan roti ultah kepadaku. Sungguh berkesan dan bahkan wali kelasnya sendiri tidak dikasih surpraise sepertiku. Thanks yah for the all members of cosec.

Hidup di dua “alam” memang menyenangkan sekaligus melelahkan. Menyenangkan manakala kita dapat mengambil pelajaran dari sana karena dua sekolah tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Yang satu adalah sekolah yang katakanlah “sudah jadi” sedangkan yang satunya baru pada taraf “berkembang”. Melelahkan karena dengan kondisi seperti itu harus mengeluarkan energi yang cukup besar. Ada di suatu hari aku harus bolak-balik mengajar. But its worth for me.

Suatu saat pula aku ditanya “lebih enak mana mengajar di smansaku atau spenzaga?”. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi baiklah akan aku jawab sebisaku. Spenzaga adalah “cinta pertamaku” dan smansaku adalah “rumahku”. Maksud loh???
Yups benar, Ku katakan Spenzaga sebagai cinta pertamaku karena disinilah pertama kali aku belajar menjadi seorang guru dan bertemu dengan orang-orang hebat. Dan kata orang “fist love never die”. Sedangkan smansaku adalah rumahku kini dan tiada tempat yang lebih menyenangkan dari rumah kita sendiri (home sweet home).

Terima kasih ku ucapkan pada segenap keluarga besar spenzaga yang telah memberikan kesempatan pada diri ini untuk menimba ilmu pada sekolah yang terbaik, guru-guru yang terbaik dan siswa-siswa yang terbaik pula. Dan semoga ini akan menjadi modal bermanfaat bagiku tuk menjadi guru yang baik dan profesional.

Dengan dibaginya rapor pada hari ini juga menandai akhir dari tahun pelajaran 2009/2010. Saatnya menyongsong tahun ajaran baru. Muka-muka lama akan segera berlalu berganti dengan wajah-wajah baru. Mohon maaf buat semua siswa-siswaku manakala ada kesalahan yang aku perbuat. Maaf pula aku haturkan jika tak bisa menjadi guru yang baik buat kalian. Dan semoga hari esok akan lebih baik lagi.

Bila nanti kita berpisah

Jangan kau lupakan

Kengan yang indah

Kisah kita



Jika memang kau tak tercipta

Untuk ku miliki

Cobalah mengerti

Yang terjadi


Bila mungkin memang tak bisa

Jangan pernah coba memaksa

Tuk tetap bertahan

Di tengah kepedihan



Jadikan ini

Perpisahan yang termanis

Yang indah dalam hidupmu

Sepanjang Waktu



Semua berakhir

Tanpa dendam dalam hati

Maafkan semua salahku

Yang mungkin menyakitimu



Semoga kelakkan kau temukan

Kekasih sejati

Yang kan menyayangi

Lebih dariku



Bila mungkin memang tak bisa

Menyatukan perbedaan kita

Dan tetap bertahan

Ditengah kepedihan



Jadikan ini

Perpisahan yang termanis

Yang indah dalam hidupmu

Sepanjang Waktu



Semua berakhir

Tanpa dendam dalam hati

Maafkan semua salahku

Yang mungkin menyakitimu

(lovarian – perpisahan termanis)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar